Mengapa Koperasi di Indonesia masih bertahan sampai sekarang ?

Di Indonesia pengertian koperasi menurut Undang-undang koperasi tahun 1997 No. 12 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian adalah: organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang merupakan susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan (Anoraga, 1993 : 4). Mengingat arti koperasi sebagaimana tersebut di atas, maka koperasi mempunyai peranan yang cukup besar dalam menyusun usaha bersama dari orang-orang yang mempunyai ekonomi terbatas. Usaha ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang dirasakan bersama, yang pada akhirnya mengangkat harga diri, mengingat kedudukan serta kemampuan untuk mempertahankan diri dan membebaskan diri dalam kesulitan.

Lembaga koperasi sejak awal diperkenalkan di Indonesia memang sudah diarahkan untuk berpihak kepada kepentingan ekonomi rakyat yang dikenal sebagai golongan ekonomi lemah. Strata ini biasanya berasal dari kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Eksistensi koperasi memang merupakan suatu fenomena tersendiri, sebab tidak satu lembaga sejenis lainnya yang mampu menyamainya, tetapi sekaligus diharapkan menjadi penyeimbang terhadap pilar ekonomi lainnya. Lembaga koperasi oleh banyak kalangan, diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia. Di dalamnya terkandung muatan menolong diri sendiri, kerjasama untuk kepentingan bersama (gotong royong), dan beberapa esensi moral lainnya. Sejak kemerdekaan diraih, organisasi koperasi selalu memperoleh tempat sendiri dalam struktur perekonomian dan mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Sebagai soko guru perekonomian Indonesia, koperasi terbukti mampu membuat ekonomi Indonesia bertahan dari krisis keuangan global yang melanda beberapa negara dikawasan Amerika beberapa waktu lalu. Faktor-faktor yang membuat koperasi di Indonesia masih bertahan ditengah krisis ekonomi global antara lain:

1. Alasan keadilan yang cukup mantap pelaksanaannya dalam koperasi.

2. Karena koperasi mampu mengumpulkan berbagai sumber untuk membentuk kekuatan bersama

dalam menghadapi persaingan badan usaha lain.

3. Koperasi tetap bertahan karena pendapat yang menyatakan bahwa koperasi sebagai badan usaha

sangat memperhatikan unsur manusia dan mendasar tindak tanduk usahanya pada kemanusiaan

karena tidak memandang manusia lain sebagai musuh melainkan sebagai kawan.

Terbukti sampai dengan bulan November 2001, misalnya, berdasarkan data Departemen Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), jumlah koperasi di seluruh Indonesia tercatat sebanyak 103.000 unit lebih, dengan jumlah keanggotaan ada sebanyak 26.000.000 orang. Jumlah itu jika dibanding dengan jumlah koperasi per Desember 1998 mengalami peningkatan sebanyak dua kali lipat. Jumlah koperasi aktif juga mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan, yaitu per November 2001 sebanyak 96.180 unit (88,14 persen). Hingga tahun 2004 tercatat 130.730, tetapi yang aktif mencapai 28,55%, sedangkan yang menjalan rapat tahunan anggota (RAT) hanya 35,42% koperasi saja. Data terakhir tahun 2006 ada 138.411 unit dengan anggota 27.042.342 orang akan tetapi yang aktif 94.708 unit dan yang tidak aktif sebesar 43.703 unit.

Apakah lembaga yang namanya koperasi bisa survive atau bisa bersaing di era globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan dunia? Apakah koperasi masih relevan atau masih dibutuhkan masyarakat, khususnya pelaku bisnis dalam era modern sekarang ini? Jawabnya: Ya. Buktinya bisa dilihat di banyak negara maju. Di Belanda misalnya, Rabbo Bank adalah bank milik koperasi, yang pada awal dekade 20-an merupakan bank ketiga terbesar dan konon bank ke 13 terbesar di dunia. Di banyak negara maju koperasi juga sudah menjadi bagian dari sistem perekonomian. Ternyata koperasi bisa bersaing dalam sistem pasar bebas, walaupun menerapkan asas kerja sama daripada persaingan. Di AS, 90% lebih distribusi listrik desa dikuasai oleh koperasi. Di Kanada, koperasi pertanian mendirikan industri pupuk dan pengeboran minyak bumi. Di negara-negara Skandinavia, koperasi menjadi soko guru perekonomian.

Bahkan saat ini, beberapa negara di Eropa berada diambang kegagalan akibat krisis keuangan yang berkepanjangan. Perekonomian Indonesia meski tetap merasakan dampak krisis finansial tersebut, tetap berjalan cukup baik. Salah satunya disebabkan oleh masih kuatnya fundamental ekonomi Indonesia yang disumbangkan oleh sektor informal, seperti koperasi dan UKM. Pemerintah, melalui Kementerian Koperasi dan UKM terus melakukan upaya-upaya pengembangan koperasi dan UKM.

Untuk mengetahui langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam mendorong pertumbuhan koperasi dan UKM di Indonesia, berikut petikan wawancara Sunardi Panjaitan dan Herman Syahara dengan Menteri koperasi dan UKM, Syarifuddin Hasan, yang ditemani oleh Pimpinan Umum Majalah Logis, Masriadi Pasaribu di ruang kerjanya, akhir Juni lalu.

Perkembangan usaha koperasi sangat tinggi. Yang jelas saat ini sudah mencapai 90 triliun omzet usaha koperasi. Sehingga terbukti bahwa koperasi merupakan salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Pertumbuhan koperasi tersebut juga seiring dengan pertumbuhan anggota koperasi yang saat ini sudah mencapai 33,6 juta anggota koperasi. Nah, ini data kuantitatif yang akurat dan terukur. Data koperasi yang lebih 180 ribu itu tercatat dengan baik di Kementerian Koperasi dan UKM.

Sekalipun ada dari beberapa koperasi itu ada yang tidak aktif yang jumlahnya sekitar 25 persen dari keseluruhan jumlah koperasi di Indonesia. Tidak aktifnya koperasi-koperasi itu, disebabkan oleh banyak hal, karena bagaimana pun ini adalah oportunity usaha, sama halnya dengan private bisnis lainnya, ada juga perusahaan-perusahaan yang mati, hanya tinggal nama. Koperasi juga seperti itu. Kewajiban Kementerian Koperasi dan UKM adalah mendorong koperasi-koperasi yang tidak aktif agar bisa aktif kembali.

Kita mendata koperasi-koperasi yang tidak aktif. Kita investigasi kenapa mereka tidak aktif. Kalau misalnya karena akses pembiayaan kurang, kita fasilitasi sepanjang itu memang perlu untuk dibantu. Jadi kita tidak dalam posisi sinterklaas, pokoknya koperasi kita bantu. Tidak begitu juga. Karena kita tidak ingin, yang tadinya kita ingin produktif tapi ternyata tidak tepat sasaran. Kita tidak ingin jadi konsumtif. Nah, kalau memang tidak memiliki sumberdaya yang cukup, kita kasih pelatihan ujar Menteri koperasi dan UKM, Syarifuddin Hasan.

Bentuk pelatihannya bermacam-macam, tergantung kebutuhannya. Bisa pelatihan kewirausahaan dan pelatihan pengelolaan koperasi misalnya. Intinya kita lihat apa penyebabnya. Kalau misalnya independensinya kurang, kita sarankan agar melakukan merger. Itukan seiring dengan program Kementerian Koperasi dan UMK, selain kuantitas, kualitasnya juga kita perhatikan. Dari koperasi-koperasi yang tidak aktif tadi, kita dorong sehingga setiap tahun paling tidak ada 5 persen yang aktif kembali. Pertimbangannya karena pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,5 persen pada tahun 2011. Karena pertumbuhan ekonomi itu disebabkan oleh kegiatan yang dilakukan oleh rakyat, oleh pelaku usaha ekonomi dan transaksi ekonomi, berarti turunannya itu juga berdampak pada koperasi. Koperasi pasti pertumbuhannya minimal 6,5 persen juga. Itu rata-rata nasional. Jadi, kalau saya misalnya menargetkan supaya yang tadinya tidak aktif menjadi aktif, angka itu (5 persen, red) sangat relevan.

Saat saya pertama sekali masuk di Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah koperasi tidak lebih dari 150 ribu koperasi. Pada awalnya saya targetkan, pada tahun 2014 itu, angkanya bisa diatas 200 ribu koperasi dengan asumsi pertumbuhan koperasi sekitar 10 persen per tahun. Maka dalam lima tahun akan terdapat sekitar 75 ribu koperasi baru. Tapi karena respon masyarakat terhadap koperasi tersebut semakin meningkat, maka saya harus merevisi target tersebut. Anda bisa bayangkan, saya baru mau tiga tahun, jumlah koperasi kita sudah lebih dari 180 ribu. Jadi saya yakin,  pada tahun 2012 ini, saya bisa mencapainya angka 200 ribu koperasi tersebut.

Begitu juga dengan kewirausahaan. Pertama kali saya masuk kesini (Kemenkop dan UKM, red), angkat kewirausaahan waktu itu 0,14 persen. Saya menargetkan paling tidak tahun 2014 itu angka 2 persen itu bisa dicapai. Tapi What’s happen, setelah program berjalan hanya dalam kurun waktu 2 tahun, jumlahnya naik secara signifikan, yang saat ini sudah mencapai angka 1, 56 persen. Jadi saya akhirnya merubah lagi target obyektif saya, bahwa saya tidak perlu menunggu tahun 2014 untuk mencapai 2 persen, sebagaimana yang disarankan oleh filosofis enterpreneur bahwa negara yang maju itu minimal 2 persen dari rasio jumlah penduduknya. Saya juga yakin kewirausahaan Indonesia, tidak perlu menunggu 2014 untuk menembus angka 2 persen itu, tapi 2012 akan bisa kita capai.

            Dari 180 ribu koperasi ini, kita sudah melakukan pendataan dan ada sekitar 193 koperasi yang berkinerja baik yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari 193 koperasi saya menginginkan di setiap provinsi itu terdapat tiga koperasi yang berskala nasional. Nah, itu yang saya inginkan, sehingga dari 193 itu kita sudah dapat 99 koperasi yang menjadi target kita untuk kita jadikan sebagai koperasi berskala nasional. Jadi setiap provinsi itu ada 3 koperasi. Dari 99 koperasi itu, kita buat pemeringkatan lagi. Peringkat 1 nasional siapa? Peringkat 2 siapa?

Indikator yang digunakan mudah sekali, karena ini alat ekonomi, jadi salah satu indikatornya adalah berapa besar aset yang mereka miliki. Kalau semakin besar aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan, dapat dipastikan manajemennya relatif lebih baik. Karena tidak akan mungkin berkembang kalau manajemennya tidak baik. Setelah itu baru, secara mikro dibahas, bagaimana prinsip-prinsip pengelolaannya, apakah menganut sistem koperasi, berapa anggotanya, hasil usahanya berapa. Itu menjadi alat ukur sehingga kita dapatkan peringkat 1 dan seterusnya.

Kita sudah 66 tahun merdeka, bahkan pada tanggal 12 Juli 2012 kita akan memperingati hari koperasi. Koperasi ini tidak alahir di Indonesia melainkan di Inggris. Semua negara di dunia memiliki koperasi.  Secara global, ada ICA (International Co-operative Alliance). Di lembaga ini ada  program global three hundred, dimana disini ada koperasi-koperasi 300 besar dunia. Salah satu ukurannya adalah total aset. Syukur alhamdulillah, sampai sekarang belum ada koperasi kita yang masuk dalam daftar itu.

Salah satu kendala koperasi adalah akses terhadap pembiayaan. Ini yang paling banyak mendapat perhatian. Kita berharap, program-program kita lakukan itu mengacu pada, bagaimana koperasi-koperasi itu mendapatkan kemudahan dalam akses pembiayaan melalui program-program kementerian. Di kementerian itu ada dana bergulir, ada dana kredit usaha rakyat (KUR), kita juga bisa memberikan bantuan-bantuan sosial yang ada di Kementerian Koperasi dan UKM bagi koperasi yang memerlukan bantuan sosial.

Kemudian bagi koperasi yang mempunyai akses dan kapasitas bisa bersaing dengan pengusaha-pengusaha lain tetapi lake of capacity dalam hal finansial, kita bisa endorse ke kredit komersial melalui analisis kita. Jadi ada banyak skema pembiayaan yang kita lakukan sekalipun itu relatif sedikit terbatas. Tetapi usaha ini paling tidak bisa membantu koperasi untuk bisa lebih giat untuk mendirikan koperasi dan mengaktifkan kegiatan mereka. Untuk mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan mereka, diperlukan empowering terhadap SDM mereka melalui pelatihan. Kita sekarang sudah punya training center di Cisarua, Bogor, yang bisa digunakan sebagai tempat pelatihan untuk para pelaku koperasi, mulai dari kepengurusannya, pengawas hingga manejernya. Jadi pelatihan itu adalah salah satu program prioritas kita.

Selanjutnya adalah pendampingan dan pemasaran. Kalau koperasi memiliki produk tapi tidak mempunyai sarana pemasaran, maka kita fasilitasi, itulah makanya saya sering bilang, “jalan-jalan dong ke SME Tower”. Pemasaran bisa kita lakukan baik di dalam ataupun luar negeri. Tapi kita ingin fokus supaya mereka bisa lebih bagus dalam negeri saja dulu. Tapi kalau ada koperasi yang mempunyai akses lebih dan memenuhi persyaratan, ya kita dorong untuk pameran di luar negeri. Kita bantu mereka untuk pameran di luar negeri, ini berkaitan dengan nilai tambah, baik itu dari kualitas, kuantitas ataupun packaging produk. Jadi banyak aspek. Itu memang yang memang belum kita miliki. Branding terhadap suatu produk itu memang tidak gampang. Perlu suatu proses dan teknologi yang perlu dikuasai. Kita selalu berikan pembinaan kearah itu. Pertama-tama kita dorong mereka untuk lebih kreatif dan inovatif. Setelah produk di branding, kita minta mereka untuk memantenkan dulu, setelah itu mulai lah promosi dilakukan. Sehingga suatu saat brandingnya itu bisa dikenal. Memang agak sulit, tapi itulah proses yang harus dilalui, tinggal bagaimana kita memanfaatkan peluang.

            Pada tahun 2011, secara akumulatif kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia itu sangat tinggi, hampir 57 persen PBD  Indonesia itu di sumbang oleh koperasi dan UKM. Sementara Eksport  20 persen kontribusinya. Jadi sekali lagi, ini merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Sehingga dalam kebijakan Presiden disebutkan bahwa untuk menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran, turunan satunya adalah pemberdayaan koperasi dan UKM. Presiden pada tahun 2011 pernah menyampaikan, koperasi kita harus melakukan gerakan revitalisasi koperasi. Revitalisasi koperasi itu maksudnya adalah pengelolaan koperasi itu harus benar-benar profesional. Jadi saya mengharapkan, pelaku koperasi itu merubah mindset. Jangan dianggap koperasi itu betul-betul sangat inklusif. Pengelolaan manajemennya juga harus terbuka dan harus betul-betul dikelola dengan profesional. Sekalipun pengelolanya bisa diambil dari luar. Intinya harus ada pengelolaan manajemen yang transparan dan profesional. Saya juga menginginkan agar ketuanya itu, tidak itu-itu saja. Tidak pernah berganti sejak koperasi itu didirikan. Ini yang sekarang saya sedang sosialisasikan kepada teman-teman bahwa pembatasan ketua koperasi cukup dua kali. Jangan karena alasan karena tidak ada orang yang mampu, tidak pernah dilakukan pergantian. Bagi mereka yang sudah bagus, jadi pengawaslah. Semangat revitalisasi inilah yang mendapat perhatian dari bapak Presiden. Alhamdulillah itu sudah mulai.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s